Sabtu, 21 April 2012

Segambar Dengan Allah

1. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah 2. Tanpa Dosa dan Fana 3. Logika, Allah, dan Manusia Doa KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kej. 1:27) Pengertian apologetika alkitabiah terletak pada pandangan yang tepat akan kebenaran mengenai karakter manusia. "Kenalilah dirimu sendiri" merupakan semboyan yang sangat populer di kalangan para pemikir sejak awal permulaan sejarah filsafat. Pengetahuan tentang diri sendiri akan melengkapi manusia untuk dapat melaksanakan berbagai macam tugas di dunia ini dengan lebih baik. Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap -- penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Manusia diciptakan, lalu jatuh dalam kutuk dosa, kemudian ditebus dengan kematian dan kebangkitan YESUS KRISTUS. Sejajar dengan tiga macam perspektif ini, kita akan mengamati karakteristik manusia dalam tiga kategori. Dalam pelajaran ketiga ini, kita akan mengamati manusia sebelum kejatuhan. Dan dalam dua pelajaran berikutnya, kita akan mempelajari manusia yang telah jatuh dalam dosa dan manusia yang telah ditebus. 1. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain (Kej. 1:27). Fakta ini memunyai banyak sekali implikasi yang dapat kita pelajari. Kita harus membatasi diri kita sendiri dalam hal ini dengan hanya mempelajari sebagian dari makna manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dari luar, manusia seperti Allah dalam hal kemampuan dan karakteristiknya secara fisik. Dari dalam, manusia dapat berpikir dan mengembangkan pemikirannya di mana dalam hal ini hanya manusia yang dapat melakukannya. Keunikan lain yang dimiliki manusia sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah jiwa yang bersifat kekal (Kej. 2:7). Lebih dari itu, manusia sebagaimana Penciptanya, telah dijadikan penguasa atas bumi ini. Sebagai wakil Allah, ia menggali dan mengolah kekayaan ciptaan Allah untuk digunakan sebagai pelayanan bagi Allah (Kej. 1:27-31). Karakteristik ini berlaku dalam batas-batas tertentu bagi semua manusia dalam dunia ini. Karena sebelum jatuh dalam dosa, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Dan manusia yang diciptakan Allah ini adalah sempurna. "... Allah telah menjadikan manusia yang jujur." (Pengkh. 7:29) Sebelum kejatuhannya dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden , Adam dan Hawa hidup secara harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu. Paulus menjelaskan tahap ini sebagai: "... pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kol. 3:10) Di bagian lain, Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah: "... diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. " (Ef. 4:24) Dari bagian Firman Tuhan ini, ada dua kualitas penting dari manusia sebelum jatuh dalam dosa yang dapat kita lihat. Pertama, dia memunyai "pengetahuan yang benar" (Kol. 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang Allah nyatakan. Oleh karena itu, Adam dapat diberi tugas yang sukar, yakni untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia secara sadar tahu akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum kejatuhan dalam dosa, pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang benar dan suci". Adam mengerti bahwa karena sifat dari Pencipta-Nya, maka ia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak sepatutnya dari Allah. Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, Adam dan Hawa taat secara sempurna pada semua perintah Allah dan hidup secara damai dengan-Nya sebelum jatuh dalam dosa. Sebelum jatuh dalam dosa, dalam segala keadaan, manusia mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran itu. B. Tanpa Dosa dan Fana Meskipun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang sempurna sebelum kejatuhan, namun manusia adalah manusia yang fana dan terbatas. Allah adalah Allah yang Mahaada (1 Raj. 8:27; Yes. 66:1), namun manusia terbatas oleh fisiknya dalam keberadaan yang terbatas. Allah adalah Allah yang Mahakuasa (Maz. 115:3); tidak ada yang dapat mengatasi atau melampaui kuasa-Nya. Oleh karena itu, sehebat-hebatnya teknologi mutakhir yang telah dicapai untuk menunjukkan kehebatan manusia, tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Allah. Di hadapan Allah, manusia tetap jauh lebih lemah dan terbatas. Demikian juga halnya dengan keterbatasan pengetahuan manusia dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang lengkap dan sempurna (Ay. 37:15; Maz. 139:12; Ams. 15:3; Yer. 23:23-24). Sebagaimana penulis surat Ibrani mengatakan: "Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia dan kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibr. 4:13) Bahkan Adam akan setuju dengan Yesaya yang mengatakan: "Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. " (Yes. 55:9) Tentu saja dibandingkan dengan pengetahuan Allah, pikiran manusia "hanyalah seumpama napas" (Maz. 94:11). Demikianlah manusia terbatas dalam pengertiannya oleh apa yang Allah nyatakan dan harus puas dengan pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak sempurna. "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal- hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." (Ul. 29:29) Pengertian mengenai keterbatasan pengetahuan manusia membawa kita kepada hal yang penting dalam diskusi yang berikutnya. Walaupun Adam tidak mengetahui segala sesuatu, dia tetap memiliki pengetahuan yang benar (Kol. 3:10). Pengertian manusia akan segala sesuatu yang ia ketahui dibatasi oleh perspektifnya akan waktu dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal-hal yang ia ketahui. Keterbatasan- keterbatasan ini merupakan bagian dari sifat penciptaan manusia. Namun, kita harus ingat bahwa sebelum jatuh dalam dosa, pengetahuan Adam miliki berasal dari Allah dalam ketergantungannya pada penyataan Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu Adam ketahui, diketahuinya dengan benar sebab ia datang pada sumber kebenaran untuk memerolehnya, yaitu Allah. Sangat nyata bahwa keterbatasan manusia tidak membuat ia tidak mampu untuk mengetahui kebenaran. Sepanjang pengetahuan yang manusia dapatkan itu berasal dari Allah, pengetahuan itu pasti benar. Oleh karena keterbatasannya, Adam harus menghadapi misteri dalam kehidupannya, "hal-hal yang tersembunyi" (Ul. 29:29) yang ia tidak dapat ketahui. Dari fakta ini, kita dapat melihat bahwa manusia yang sempurna pun tidak mampu untuk menyusun atau menyimpulkan setiap aspek dari pengetahuan yang didapatnya ke dalam suatu gambaran lengkap yang baik dan sempurna; selalu ada titik buntu dalam pemikirannya, yaitu paradoks-paradoks dan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan oleh akal pikiran manusia. Namun sebagaimana besarnya misteri ini, pengetahuan manusia dalam tahap ini tetap dapat diperhitungkan serta dipertanggungjawabk an kepastian dan kebenarannya. Kepastian dan keyakinan Adam terletak pada penyataan Allah, tidak pada kemampuannya untuk mengetahui yang terpisah dari pengetahuan Allah. Pengetahuan Allah yang sempurna dalam segala sesuatu mengabsahkan pengetahuan manusia yang terbatas sepanjang manusia bergantung pada Allah. Mari kita lihat contoh dari suatu misteri yang kita hadapi atau temui pada zaman ini. Inkarnasi dari Juru Selamat kita, Tuhan YESUS KRISTUS, merupakan suatu hal yang penuh dengan misteri. Kita mengakui bahwa Ia adalah 100% Allah dan juga 100% manusia. Kita dapat mengerti kesejatian dari ke-Tuhanan-Nya dan kesejatian dari kemanusiaan- Nya sampai pada taraf tertentu, namun jika kita mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut implikasi dari pengajaran ini, kita akan terbentur pada batas kemampuan kita dalam memahami hal tersebut. Misalnya, dapatkah kita menjelaskan bagaimana YESUS "bertambah dalam hikmat-Nya" (Luk. 2:52) apabila Ia adalah Allah yang Mahatahu? Apakah kita dapat menjelaskan bagaimana YESUS yang adalah Allah dapat mati di atas kayu salib? Kita dapat berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan ini, namun orang yang jujur segera akan menyadari bahwa pertanyaan-pertanya an ini, juga pertanyaan-pertanya an lain yang semacamnya, adalah di luar batas kemampuan manusia untuk mengerti. Meski kita tidak dapat menyelami semua konsep ini, namun kita dapat yakin bahwa YESUS adalah 100% Allah dan juga 100% manusia, dan bahwa Ia bertambah dalam hikmat dan kemudian Ia mati. Keyakinan ini bukan bergantung pada ketidakmampuan kita untuk mengerti secara tuntas, melainkan karena kita percaya pada penyataan Allah. Semakin kita mengerti akan kebenaran kristiani, kita akan menemukan bahwa di akhir setiap pengajaran dari Firman Tuhan, terlihat fakta ketidakmampuan manusia untuk menyelami secara tuntas konsep-konsep dalam hubungannya dengan konsep-konsep kebenaran yang lain. Ada banyak hal-hal yang kelihatannya berlawanan satu dengan yang lain dalam kebenaran kristiani, namun hal ini seharusnya tidak boleh menyebabkan kita meragukan pengajaran Alkitab. Ada dua alasan mengapa kita tidak boleh meragukan pengajaran Alkitab. Pertama, hal itu seharusnya membuat kita sadar akan keterbatasan diri kita. Manusia harus menyadari keberadaan mereka sebagai makhluk ciptaan dan bersama Paulus menyatakan kalimat berikut ini: "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan -Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan- Nya!" (Rom. 11:33) Kedua, Alkitab tidak seharusnya diragukan pada saat kita tidak dapat mencocokkan kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lain. Penyataan Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi-Nya tidak ada satu hal pun yang bersifat misteri. Allah dapat menuntaskan konsep-konsep yang paling sukar, yang tidak dapat dituntaskan oleh pikiran manusia. Tidak ada satu hal pun yang merupakan misteri bagi Allah; Ia mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Namun, misteri merupakan keterbatasan dari makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sepanjang kita bergantung kepada-Nya dalam pengetahuan kita, misteri yang paling besar pun tidak akan menghalangi kita dari kebenaran. C. Logika, Allah, dan Manusia Suatu hal yang terus-menerus timbul dalam suatu diskusi dan yang memengaruhi apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam hubungan antara Allah dan manusia. Dalam pelajaran ini, kita akan membatasi pada sebagian kecil dari pertanyaan-pertanya an yang ada. Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga yang membedakannya dengan binatang (2 Pet. 2:12, Yud. 10). Kita telah mempelajari bahwa di taman Eden , Adam telah menggunakan akal budinya dalam ketergantungan- Nya pada Allah. Dia membangun pola berpikir yang sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaatannya pada Allah. Ia tidak pernah mengabaikan ketergantungannya pada Allah dengan berpikir bahwa logikanya mampu memberikan penjelasan dan pengetahuan secara terpisah dari Allah. Akibatnya, dalam menggunakan kemampuannya, Adam menggunakan akal budi yang selalu tunduk pada keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat sebagai dasar dari kebenaran dan sumber dari kebenaran, karena keadaan Adam pada saat itu adalah sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan tanpa dosa. Dari peran akal budi yang berdasarkan logika, yang dimiliki manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan yang dapat kita lakukan. Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan pikiran itu bukanlah sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah". Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta menganggap kedua hal itu sebagai sesuatu yang jahat dan saling bertentangan. Penggunaan akal budi bukan merupakan sesuatu yang jahat sebab di dalam taman Eden , Adam juga menggunakan akal budi dan mengembangkan pikirannya. Adamlah yang menamai binatang-binatang dan yang memelihara taman. Ia tidak menghilangkan logikanya dalam melaksanakan kehidupannya sehari-hari. Yang perlu diperhatikan adalah bila manusia memakai akal budi dan mengembangkan pikirannya secara berdiri sendiri atau terlepas dari Allah, hal ini akan memimpinnya kepada ketidakbenaran dan kesalahan. Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam ketergantungan pada penyataan Allah, kebenaran akan ditemukan. Menggunakan akal budi dan mengembangkan pikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau kebenaran. Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan. Saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam Firman Tuhan, Allah merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak merupakan bagian dari keberadaan Allah. Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan dengan kualitas yang sama seperti Allah. Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan, maka logika memiliki keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan, ada beberapa sistem logika yang dalam titik tertentu, berlawanan satu sama lain. Tidak ada definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun semua manusia dapat saja sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran. Kekristenan, pada hal-hal tertentu, dapat dikatakan masuk akal dan logis, namun logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan dengan hal-hal seperti inkarnasi dari KRISTUS dan doktrin Tritunggal. Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan. Penghormatan hanya boleh diberikan kepada Allah saja. Kebenaran hanya ditemukan pada penghakiman Allah, bukan pada pengadilan logika. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk menghindari dua sisi ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungannya dengan penggunaan akal budi dan logika. Di satu pihak, ada manusia yang menolak menggunakan akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya, namun ia diharapkan menyadari keterbatasan pikirannya dan ketergantungan logikanya pada Penciptanya. Karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar dari tugas berapologetika. Meskipun pada saat ini tidak ada seorang pun di dunia yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas manusia sebelum kejatuhan yang terbawa sampai hari ini. Pada saat kita membela iman Kristen, kita berhubungan dengan laki-laki dan perempuan keturunan Adam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memunyai pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum kejatuhan. Judul buku: Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah Judul artikel: Gambar yang Orisinal Penulis: Anthony A. Hoekama Penerbit: Momentum, Surabaya 2003 Halaman: 105 -- 106 GAMBAR YANG ORISINAL Untuk memahami gambar Allah dalam kandungan alkitabiah yang sepenuhnya, kita harus melihatnya di dalam terang penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kita melihat gambar yang orisinal. Meskipun kita tidak tahu bagaimana persisnya gambar Allah menyatakan diri pada tahap itu,[32] kita bisa mengasumsikan bahwa pasangan manusia pertama mencitrakan Allah dengan taat dan tanpa dosa. Menurut Augustinus, manusia pada saat itu "bisa tidak berdosa."[33] Maka kita juga bisa mengasumsikan bahwa pada tahap ini, Adam dan Hawa menjalani ketiga bentuk relasi yang telah kita bahas di atas dengan taat dan tanpa dosa: di dalam menyembah dan melayani Allah, di dalam mengasihi dan melayani sesama, dan di dalam berkuasa dan memelihara wilayah ciptaan di mana Allah telah menempatkan mereka. Tetapi, masih diperlukan komentar tambahan. Meskipun pasangan manusia pertama ini tidak berdosa dan hidup dalam apa yang sering disebut para teolog sebagai "tahap integritas" (stage of integrity), mereka belum tiba di akhir perjalanan. Mereka belum menjadi penyandang gambar Allah yang telah berkembang sepenuhnya; mereka seharusnya maju ke satu tahap yang lebih tinggi, di mana ketidakberdosaan mereka tidak akan bisa hilang. Pada tahap yang pertama ini, masih ada kemungkinan untuk berdosa. Bavinck menyatakannya sebagai berikut: Adam tidak berdiri di akhir melainkan di awal perjalanan; ia berada dalam kondisi yang bersifat sementara, sehingga kondisi ini tidak bisa tetap bertahan seperti itu dan harus berlalu, baik menuju tahap kemuliaan yang lebih tinggi atau menuju kejatuhan dalam dosa dan maut.[34] Selanjutnya, menurut Bavinck, fakta bahwa Adam dan Hawa masih harus hidup dengan kemungkinan dapat berdosa, bisa disebut sebagai batasan dari gambar Allah: Adam ... memiliki posse non peccare [bisa tidak berdosa] tetapi belum memiliki non posse peccare [tidak bisa berdosa]. Dia masih hidup di dalam kemungkinan dapat berdosa ... dia belum memiliki kasih yang sempurna dan tidak berubah yang meniadakan semua rasa takut. Jadi, para teolog Reformed benar saat menegaskan bahwa kemungkinan ini, yaitu kemungkinan untuk berubah-ubah dan kemampuan untuk berbuat dosa ini ... bukanlah suatu aspek atau isi dari gambar Allah, melainkan batasan, limitasi, atau ujung dari gambar Allah.[35] Re: KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA Hal ini jelas: integritas yang di dalamnya Adam dan Hawa bereksistensi sebelum Kejatuhan bukanlah keadaan sempurna yang telah digenapkan dan tak mungkin berubah. Manusia memang diciptakan menurut gambar Allah pada mulanya, tetapi ia belum menjadi "produk akhir." Dia masih perlu bertumbuh dan diuji. Allah hendak menetapkan apakah manusia akan taat kepada-Nya secara bebas dan sukarela. Untuk alasan inilah Allah memberikan sebuah "perintah larangan" kepada Adam, "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17). Jika Adam dan Hawa menaati perintah ini, siapa yang tahu akan menjadi seperti apa sejarah umat manusia. Tetapi, sangat disesalkan, mereka tidak taat sehingga mereka menjatuhkan diri mereka dan seluruh umat manusia yang lahir setelah mereka, ke dalam keadaan berdosa. WATAK SEMULA MANUSIA Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai ungkapan "menurut gambar dan rupa Allah" (Kej. 1:26-27; 5:1; 9:6; 1Kor. 11:7; Yak. 3:9). Nampaknya tidak ada perbedaan berarti di antara kata-kata Ibrani "gambar" dan "rupa", sehingga kita tidak perlu mencari-cari perbedaan itu. Namun perlu kiranya kita membahas apakah gambar dan rupa itu. A. KESAMAAN ITU BUKAN KESAMAAN JASMANIAH ------------ --------- --------- --------- - Allah adalah Roh sehingga tidak memiliki anggota-anggota tubuh seperti manusia. Beberapa kalangan menggambarkan Allah sebagai manusia yang agung dan luhur, namun pandangan semacam ini salah. Mazmur 17:15 mengatakan, "Pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu." Namun ayat ini tidak memaksudkan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau dikatakan bahwa ayat ini menurut konteksnya berbicara mengenai persamaan dalam kebenaran (lihat 1 Yoh. 3:2-3). Musa telah melihat "rupa Tuhan" (Bil. 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat (Kel. 33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah dengan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan dalam keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apa pun di dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Nampaknya pada mulanya Allah merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan saja (Kej. 1:29), tetapi kemudian Ia mengizinkan daging hewan untuk dimakan (Kej. 9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Allah mengizinkan manusia memakan daging, Allah samasekali tidak memberikan peraturan mengenai hewan haram dan hewan halal meskipun perbedaan antara yang haram dan yang halal sudah diketahui (Kej. 7:2). Peraturan itu diberi kemudian untuk mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku untuk jangka waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15; Roma 14:1-12; Kolose 2:16). B. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MENTAL ------------ --------- --------- -------- Hodge mengatakan, Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga. Sifat-sifat hakiki dari roh ialah akal budi, hati nurani, dan kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat moral, dan oleh karena itu juga herkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia menurut gambar-Nya Allah menganugerahkan kepadanya sifat-sifat yang dimiliki-Nya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta berkedudukan jauh lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk golongan yang sama dengan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi dengan Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini ... Juga merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karena itu merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan menurut gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama dengan binatang-binatang yang akhirnya binasa. Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudusan, manusia "terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kol. 3:10). Tentu saja, pembaharuan ini dimulai pada saat kelahiran baru terjadi, tetapi dilanjutkan dalam pengudusan. Bahwa manusia diberi kemampuan intelektual yang tinggi tersirat dalam perintah untuk mengusahakan taman Eden serta memeliharanya (Kej. 2:15), juga perintah untuk menguasai bumi beserta segala isinya (Kej. 1:26, 28), dan dalam pemyataan bahwa manusia memberi nama kepada segala binatang di bumi (Kej. 2:19-20). Kesamaan dengan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan tersebut memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan manusia yang belum dilahirkan baru juga berharga (Kej. 9:6; 1 Kor. 11:7; Yak. 3:9). Betapa berbcdanya gambaran ini tentang keadaan mula-mula manusia dengan pandangan evolusi, yang menganggap manusia yang pertama hanya sedikit di atas binatang liar yang tidak hanya bodoh, tetapi sama sekali tanpa kemampuan mental apa pun. C. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MORAL ------------ --------- --------- ------- Beberapa pihak telah membuat kekeliruan karena menganggap bahwa gambar dan rupa Allah yang menjadi karakter asli manusia ketika diciptakan itu hanya terdapat dalam sifat rasionalnya; sedangkan yang lain membatasi kesamaan itu pada kekuasaan manusia saja. Yang lebih tepat ialah bahwa kesamaan itu terdapat dalam sifat rasional manusia dan dalam persesuaian moralnya dengan Allah. Hodge mengatakan, Manusia adalah gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia itu roh, unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang biasanya disebut oleh para teolog Reformasi sebagai gambar Allah yang hakiki dan bukan yang insidental. Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah sudah jelas dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru itu "diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef. 4:24), maka pastilah tepat untuk menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki baik kebenaran maupun kekudusan. Konteks Kejdian 1 dan 2 membuktikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia dapat bersekutu dengan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman (Hab. 1:13). Pengkhotbah 7:29 mendukung pendapat ini. Di situ tercatat bahwa Allah telah menciptakan "manusia yang jujur". Kenyataan ini dapat juga kita simpulkan dari Kejadian 1:31 yang mengatakan bahwa "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kata "segala" mencakup juga manusia sehingga pemyataan itu tidaklah benar apabila manusia diciptakan dengan keadaan moral yang tidak sempurna. Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran dan kesucian mula-mula? Yang jelas, kebenaran dan kesucian mula-mula bukanlah hakikat manusia, karena dengan demikian watak manusia pasti sudah tidak ada lagi ketika ia berbuat dosa. Kekudusan dan kebenaran mula-mula tersebut juga bukan pemberian dari luar, yaitu sesuatu yang ditambahkan kepada manusia setelah ia diciptakan, karena dikatakan bahwa manusia memiliki gambar ilahi itu ketika diciptakan, dan bukan karena dikaruniakan kepadanya setelah diciptakan. Shedd menerangkannya sebagai berikut, Kekudusan bukanlah sekadar keadaan tidak berdosa. Tidaklah memadai untuk mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa. Hal ini dapat dikatakan apabila manusia samasekali tidak mcmiliki watak yang moral entah itu benar atau salah. Manusia diciptakan tidak hanya sebagai makhluk yang tidak berdosa secara negatif, tetapi juga sebagai makhluk kudus secara positif. Keadaan manusia yang diperbaharui adalah pemulihan keadaannya yang semula; dan kebenaran manusia yang telah diperbaharui disebut dalam Alkitab sebagai kata 'theon', Ef. 4:21, dan sebagai "kekudusan yang sesungguhnya" , Ef. 4:24. Ini merupakan watak yang positif, dan bukan sekadar keadaan tidak berdosa saja. Kadang- kadang hal ini disebut sebagai kekudusan yang "diciptakan bersama", sebagai berlawanan dengan kekudusan yang menurut beberapa orang telah dianugerahkan oleh Allah kepada manusia setelah ia diciptakan. Kekudusan mula-mula ini dapat diartikan sebagai kecenderungan kasih sayang dan kemauan manusia, sekalipun disertai kekuatan pilihan yang jahat, ke arah pengenalan yang rohani akan Allah serta hal-hal rohani lainnya. Kekudusan mula-mula ini berbeda dengan kekudusan yang disempurnakan dari orang-orang saleh, sebagaimana kasih sayang yang naluriah dan keadaan tidak berdosa yang kekanak-kanakan adalah berbeda dari kckudusan yang telah dimatangkan dan diperkuat oleh pencobaan. D. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN SOSIAL ------------ --------- --------- -------- Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayang-Nya. Yang menjadi sasaran kasih sayang-Nya adalah Oknum-Oknum lain di dalam ketritunggalan- Nya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka Ia menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manusia senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Pertama-tama, manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sendiri. Manusia "mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk" (Kej. 3:8). Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa manusia berkomunikasi dengan Allah Penciptanya. Allah telah menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri, dan manusia menemukan kepuasan tertinggi dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan tetapi, di samping itu Allah juga menganugerahkan persahabatan manusiawi. Ia menciptakan wanita, karena, sebagaimana dikatakan-Nya sendiri, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kej. 2:18). Agar persekutuan ini menjadi sangat mesra, Ia menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Adam mengakui bahwa Hawa adalah tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya, maka dinamakannya "perempuan". Dan oleh sebab hubungan yang begitu intim di antara keduanya, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej. 2:24). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan sifat sosial, sebagaimana Allah mennpunyai sifat sosial. Kasih dan perhatian sosial manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam watak manusia. Judul buku: Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah Judul artikel: Ajaran Perjanjian Lama Pengarang: Anthony A. Hoekhema Penerbit: Momentum, 2003 Halaman: 15 -- 20 AJARAN PERJANJIAN LAMA Perjanjian Lama tidak banyak berbicara tentang gambar Allah. Konsep ini dibicarakan secara eksplisit hanya dalam tiga bagian Perjanjian Lama, semuanya di kitab Kejadian: 1:26-28; 5:1-3; dan 9:6. Orang juga bisa berpendapat bahwa Mazmur 8 mendeskripsikan apa yang dimaksudkan dengan penciptaan manusia menurut gambar Allah, tetapi frasa "gambar Allah" tidak ada di sana . Kita akan memerhatikan keempat bagian Perjanjian Lama ini secara berurutan. Kejadian 1:26-28 berbunyi: (26) Berfirmanlah Allah: "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas se- gala binatang melata yang merayap di bumi." (27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung- burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Kejadian 1 mengajarkan keunikan penciptaan manusia, yakni bahwa sementara Allah menciptakan setiap hewan "menurut jenisnya" (ay. 21,2425), hanya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (ay. 26-27). Herman Bavinck menyatakannya sebagai berikut: Seluruh dunia merupakan penyataan Allah, cermin dari nilai-nilai dan kesempurnaan- Nya; dengan cara dan menurut ukurannya masing-masing, setiap makhluk merupakan perwujudan dari pemikiran ilahi. Tetapi di antara semua ciptaan, hanya manusia yang merupakan gambar Allah, penyataan yang tertinggi dan terkaya akan Allah, dan oleh karena itu, me rupakan kepala dan puncak dari seluruh penciptaan. Hal pertama yang begitu menyedot perhatian kita pada saat membaca Kejadian 1:26 adalah kata kerja utamanya yang berbentuk jamak, "Berfirmanlah Allah: `Baiklah Kita menjadrkan manusia...." Ini mengindikasikan bahwa penciptaan manusia memiliki kelas tersendiri, karena ungkapan ini tidak dipakai untuk ciptaan lain yang mana pun. Banyak teolog telah mencoba untuk menjelaskan bentuk jamak ini. Penjelasan bahwa hal ini merupakan "kemuliaan dalam bentuk jamak" sangat tidak mungkin, karena bentuk jamak seperti ini tidak ditemukan di bagian Alkitab lain. Yang lain beranggapan bahwa Allah di sini tengah berbicara dengan para malaikat. Kita juga harus menolak penafsiran ini karena Allah tidak pernah dikatakan meminta masukan dari malaikat, karena mereka yang juga dicipta tak bisa menciptakan manusia, dan karena manusia tidak dijadikan menurut rupa malaikat. Kita harus menafsirkan bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa Allah tidak bereksistensi sebagai keberadaan yang tersendiri, melainkan sebagai keberadaan yang memiliki persekutuan dengan "yang lain." Meski kita tak bisa mengatakan bahwa di bagian ini kita memiliki ajaran yang jelas tentang Trinitas, kita bisa mempelajari bahwa Allah bereksistensi sebagai satu "pluralitas. " Apa yang dinyatakan secara tidak langsung di sini akan dikembangkan lebih lanjut dalam Perjanjian Baru menjadi dokrin Trinitas. Juga harus diperhatikan bahwa ada sebuah perencanaan yang mendahului penciptaan manusia: "Marilah Kita menjadikan manusia...." Hal ini sekali lagi menunjukkan keunikan dalam penciptaan manusia. Perencanaan ilahi seperti ini tidak pernah dikaitkan dengan ciptaan lain. Kata yang diterjemahkan sebagai manusia dalam ayat ini berasal dari kata Ibrani adam. Kata ini kadang dipakai sebagai nama diri, Adam (lihat, misalnya, Kejadian 5:1, "Inilah daftar keturunan Adam"). Tetapi, kata ini bisa juga berarti manusia pada umumnya. Dalam pengertian ini, kata tersebut memiliki makna yang sama dengan kata Jerman Mensch: bukan laki-laki dalam keberbedaannya dengan perempuan, melainkan manusia dalam keberbedaannya dari ciptaan yang non manusia, yaitu manusia sebagai laki-laki atau perempuan, atau manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Dalam pengertian Inilah kata tersebut dipakai di dalam Kejadian 1:26 dan 27. Kadang kata adam juga dipakai untuk menunjuk umat manusia (lihat misalnya Kejadian 6:5, "ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi"). Karena berkat yang terdapat di Kejadian 1:28 teraplikasikan kepada seluruh umat manusia, kita bahkan bisa mengatakan bahwa ayat 26 dan 27 mendeskripsikan penciptaan umat manusia, meski kita kemudian harus membatasi pemyataan ini sebagai berikut: Allah menciptakan lakilaki dan perempuan itu, yang mana dari keduanyalah semua umat manusia akan dilahirkan. Kita sekarang sampai pada kata-kata yang penting: "menurut gambar dan rupa Kita." Kata yang diterjemahkan sebagai gambar adalah tselem, dan yang diterjemahkan sebagai rupa adalah demuth. Di dalam bahasa Ibrani tak ada kata sambung di antara kedua ungkapan tersebut; teks Ibrani hanya berbunyi "marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa Kita." Baik Septuaginta maupun Vulgata memasukkan kata dan, sehingga memberi kesan bahwa "gambar" dan "rupa" mengacu kepada dua hal yang berbeda. Tetapi, teks bahasa Ibrani memperjelas bahwa tak ada perbedaan yang esensial di antara keduanya: "menurut gambar Kita" hanyalah suatu cara lain untuk mengatakan "menurut rupa Kita." Hal ini akan terbukti dengan menelaah pemakaian kedua kata ini di bagian ini dan di dua bagian kitab Kejadian lainnya. Dalam Kejadian 1:26, baik kata gambar maupun rupa dipakai; dalam Kejadian 1:27 hanya kata gambar yang dipakai. Dalam Kejadian 5:3 kedua kata dipakai, tetapi kali ini dengan urutan yang berbeda: menurut rupa dan gambar [Adam]. Dan sekali lagi dalam Kejadian 9:6 hanya kata gambar yang dipakai. Jika kata-kata ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan aspek-aspek manusia yang berbeda, maka keduanya takkan dipakai dengan cara seperti yang baru kita lihat, yaitu bisa dipertukarkan. Tetapi, meski kedua kata ini biasa dipakai sebagai sinonim, kita bisa menemukan sedikit perbedaan di antara keduanya. Kata Ibrani untuk gambar, tselem, diturunkan dari akar kata yang bermakna "mengukir" atau "memotong." Maka kata ini bisa dipakai untuk mendeskripsikan ukiran berbentuk binatang atau manusia. Ketika diaplikasikan pada penciptaan manusia di dalam Kejadian 1, kata tselem ini mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah, artinya manusia merupakan suatu representasi Allah. Kata Ibrani untuk rupa, demuth di dalam Kejadian 1 bermakna "menyerupai. " Jadi, orang bisa berkata bahwa kata demuth di Kejadian 1 mengindikasikan bahwa gambar tersebut juga merupakan keserupaan, "gambar yang menyerupai Kita." Kedua kata itu memberi tahu kita bahwa manusia merepresentasikan Allah dan menyerupai Dia dalam hal-hal tertentu. Bagaimana manusia menyerupai Allah tidak dinyatakan secara spesifik dan eksplisit di dalam kisah penciptaan, meskipun kita bisa melihat bahwa keserupaan-keserupa an tertentu dengan Allah terimplikasikan di sana. Misalnya, dari Kejadian 1:26 kita bisa menarik kesimpulan bahwa kekuasaan atas binatang dan atas seluruh bumi merupakan satu aspek dari gambar Allah. Di dalam menjalankan kekuasaan ini manusia menjadi serupa dengan Allah, karena Allah memiliki kuasa yang tertinggi dan ultimat atas bumi. Dari ayat 27 kita bisa menyimpulkan bahwa aspek lain dari gambar Allah menyangkut perihal penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24), maka kita tak boleh menyimpulkan bahwa keserupaan dengan Allah dalam hal ini ditemukan di dalam perbedaan fisik antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Keserupaan ini harus ditemukan di dalam fakta bahwa laki- laki memerukan pendampingan perempuan, bahwa manusia merupakan makhluk sosial, bahwa kaum perempuan melengkapi kaum laki-laki dan kaum laki- laki melengkapi kaum perempuan. Dalam hal ini manusia mencerminkan Allah, yang bereksistensi bukan sebagai Keberadaan yang terasing, melainkan berada di dalam persekutuan- persekutuan yang pada tahap penyataan selanjutnya digambarkan sebagai persekutuan antara Bapa, Anak dan ROH KUDUS. Dari fakta bahwa Allah memberkati umat manusia dan memberikan mandat kepada mereka (ay. 28), kita bisa menyimpulkan bahwa umat manusia juga menyerupai Allah dalam hal mereka adalah keberadaan yang berpribadi dan bertanggung jawab, yang bisa diajak berbicara oleh Allah dan yang bertanggung jawab kepada Allah sebagai Pencipta dan Penguasa atas mereka. Sebagaimana Allah di sini dinyatakan sebagai satu Pribadi (di kemudian hari di dalam sejarah penyataan, hal ini diperluas menjadi tiga Pribadi) yang mampu membuat keputusan dan memerintah, maka manusia adalah pribadi yang juga mampu membuat keputusan dan memerintah. Sementara meneruskan penelaahan kita terhadap Kejadian 1:26-28, kita melihat berkat Allah bagi manusia dalam ayat 28 (sebagaimana ayat 22 menunjukkan berkat Allah bagi binatang). Bagian terakhir dari berkat ini sangat mirip dengan apa yang dikatakan mengenai manusia dalam ayat 26, "supaya mereka berkuasa." Hanya saja kata kerja di sini berbentuk orang kedua jamak dan ditujukan kepada orangtua pertama kita. Kata-kata mengenai kekuasaan manusia ini didahului oleh kata- kata yang tidak ditemukan dalam ayat 26, "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi." Perintah untuk beranak cucu dan bertambah banyak mengimplikasikan lembaga pernikahan, yang penetapannya dikisahkan dalam Kejadian 2:18-24. Dalam memberikan berkat-Nya, Allah berjanji akan memampukan manusia untuk berkembang biak dan menghasilkan keturunan yang akan memenuhi bumi; Dia juga berjanji akan memampukan mereka menaklukkan bumi dan berkuasa atas binatang-binatang dan atas bumi itu sendiri. Kata-kata ini merupakan berkat, tetapi juga mengandung perintah atau mandat. Allah memerintahkan manusia untuk beranak cucu dan berkuasa. Ini secara umum disebut mandat budaya: perintah untuk memerintah bumi atas nama Allah dan membangun budaya yang memuliakan Allah. Sebelum kita beralih ke bagian teks berikutnya, ada satu hal lagi yang perlu dicatat. Ayat 31 berbunyi, "Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik." "Segala yang dijadikan-Nya" ini mencakup juga manusia. Maka, saat manusia bermula dari tangan Sang Pencipta, ia tidak rusak, bobrok, atau berdosa; manusia berada dalam kondisi berintegritas, tidak bersalah, dan kudus. Apa pun yang terdapat dalam diri manusia saat ini, yang jahat atau menyimpang, bukan merupakan bagian dari penciptaannya yang semula. Saat diciptakan, manusia sangat baik adanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar